khutbah idul adha
BAB 4
*CONTOH KHUTBAH IDUL ADHA*
Khutbah I
ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ. ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ
ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ. ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ. ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮْ
ﻛَﺒِﻴْﺮًﺍ ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟﻠﻪِ ﻛَﺜِﻴْﺮًﺍ ﻭَﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺑُﻜْﺮَﺓً ﻭَﺃَﺻِﻴْﻼً،
ﻟَﺎﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺣْﺪَﻩُ، ﺻَﺪَﻕَ ﻭَﻋْﺪَﻩُ ﻭَﻧَﺼَﺮَ ﻋَﺒْﺪَﻩُ ﻭَﺃَﻋَﺰَّ
ﺟُﻨْﺪَﻩُ ﻭَﻫَﺰَﻡَ ﺍﻟْﺄَﺣْﺰَﺍﺏَ ﻭَﺣْﺪَﻩُ، ﻻَﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺍﻟﻠﻪُ
ﺃَﻛْﺒَﺮُ، ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﻭَﻟﻠﻪِ ﺍْﻟﺤَﻤْﺪُ. ﺍﻟﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺧَﻠَﻖَ
ﺍﻟﺰّﻣَﺎﻥَ ﻭَﻓَﻀَّﻞَ ﺑَﻌْﻀَﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺑَﻌْﺾٍ ﻓَﺨَﺺَّ ﺑَﻌْﺾُ
ﺍﻟﺸُّﻬُﻮْﺭِ ﻭَﺍﻷَﻳَّﺎﻡِ ﻭَﺍﻟَﻠﻴَﺎﻟِﻲ ﺑِﻤَﺰَﺍﻳَﺎ ﻭَﻓَﻀَﺎﺋِﻞَ ﻳُﻌَﻈَّﻢُ ﻓِﻴْﻬَﺎ
ﺍﻷَﺟْﺮُ ﻭﺍﻟﺤَﺴَﻨَﺎﺕُ. ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺣْﺪَﻩُ ﻻَ
ﺷَﺮِﻳْﻚَ ﻟَﻪُ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﺳَﻴِّﺪَﻧﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ
ﺍﻟﺪَّﺍﻋِﻰ ﺑِﻘَﻮْﻟِﻪِ ﻭَﻓِﻌْﻠِﻪِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺮَّﺷَﺎﺩِ. ﺍﻟﻠّﻬُﻢَّ ﺻَﻞّ ﻭﺳّﻠِّﻢْ
ﻋﻠَﻰ ﻋَﺒْﺪِﻙَ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟِﻚَ ﻣُﺤَﻤّﺪٍ ﻭِﻋَﻠَﻰ ﺁﻟِﻪ ﻭﺃﺻْﺤَﺎﺑِﻪِ
ﻫُﺪَﺍﺓِ ﺍﻷَﻧَﺎﻡِ ﻓﻲ ﺃَﻧْﺤَﺎﺀِ ﺍﻟﺒِﻼَﺩِ. ﺃﻣَّﺎ ﺑﻌْﺪُ، ﻓﻴَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ
ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺑِﻔِﻌْﻞِ ﺍﻟﻄَّﺎﻋَﺎﺕِ
ﻓَﻘَﺪْ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟﻰَ ﻓِﻲ ﻛِﺘَﺎﺑِﻪِ ﺍﻟْﻜَﺮِﻳْﻢِ: ﺇِﻧَّﺎ ﺃَﻋْﻄَﻴْﻨَﺎﻙَ
ﺍﻟْﻜَﻮْﺛَﺮَ. ﻓَﺼَﻞِّ ﻟِﺮَﺑِّﻚَ ﻭَﺍﻧْﺤَﺮْ. ﺇِﻥَّ ﺷَﺎﻧِﺌَﻚَ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﺄَﺑْﺘَﺮ
ﻟَﻦْ ﻳَﻨَﺎﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟُﺤُﻮﻣُﻬَﺎ ﻭَﻻ ﺩِﻣَﺎﺅُﻫَﺎ ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻨَﺎﻟُﻪُ
ﺍﻟﺘَّﻘْﻮَﻯ ﻣِﻨْﻜُﻢ
ﺭَﺏِّ ﻫَﺐْ ﻟِﻲ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤِﻴﻦ
ﺇِﻥَّ ﻫَﺬَﺍ ﻟَﻬُﻮَ ﺍﻟْﺒَﻠَﺎﺀُ ﺍﻟْﻤُﺒِﻴﻦُ. ﻭَﻓَﺪَﻳْﻨَﺎﻩُ ﺑِﺬِﺑْﺢٍ ﻋَﻈِﻴﻢٍ.
ﻭَﺗَﺮَﻛْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺂَﺧِﺮِﻳﻦَ. ﺳَﻠَﺎﻡٌ ﻋَﻠَﻰ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢَ.
ﻛَﺬَﻟِﻚَ ﻧَﺠْﺰِﻱ ﺍﻟْﻤُﺤْﺴِﻨِﻴﻦَ. ﺇِﻧَّﻪُ ﻣِﻦْ ﻋِﺒَﺎﺩِﻧَﺎ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦ
ﺑَﺎﺭَﻙَ ﺍﻟﻠﻪ ﻟِﻲ ﻭَﻟَﻜُﻢْ ﻓِﻰ ﺍْﻟﻘُﺮْﺁﻥِ ﺍْﻟﻌَﻈِﻴْﻢِ، ﻭَﻧَﻔَﻌَﻨِﻲ
ﻭَﺇِﻳَّﺎﻛُﻢْ ﺑِﻤَﺎﻓِﻴْﻪِ ﻣِﻦْ ﺁﻳَﺔِ ﻭَﺫِﻛْﺮِ ﺍﻟْﺤَﻜِﻴْﻢِ ﻭَﺗَﻘَﺒَّﻞَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻣِﻨَّﺎ
ﻭَﻣِﻨْﻜُﻢْ ﺗِﻼَﻭَﺗَﻪُ ﻭَﺇِﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺴَّﻤِﻴْﻊُ ﺍﻟﻌَﻠِﻴْﻢُ، ﻭَﺃَﻗُﻮْﻝُ
ﻗَﻮْﻟِﻲ ﻫَﺬَﺍ ﻓَﺄﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُ ﺍﻟﻠﻪَ ﺍﻟﻌَﻈِﻴْﻢَ ﺇِﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻐَﻔُﻮْﺭُ
ﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢ
Khutbah II
ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﺍَﻟﻠﻪُ
ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ.
ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟﻠﻪِ ﻋَﻠﻰَ ﺇِﺣْﺴَﺎﻧِﻪِ ﻭَﺍﻟﺸُّﻜْﺮُ ﻟَﻪُ ﻋَﻠﻰَ ﺗَﻮْﻓِﻴْﻘِﻪِ
ﻭَﺍِﻣْﺘِﻨَﺎﻧِﻪِ. ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺍِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺣْﺪَﻩُ ﻻَ
ﺷَﺮِﻳْﻚَ ﻟَﻪُ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃﻥَّ ﺳَﻴِّﺪَﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ
ﺍﻟﺪَّﺍﻋِﻰ ﺇﻟﻰَ ﺭِﺿْﻮَﺍﻧِﻪِ. ﺍﻟﻠﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ
ﻭِﻋَﻠَﻰ ﺍَﻟِﻪِ ﻭَﺍَﺻْﺤَﺎﺑِﻪِ ﻭَﺳَﻠِّﻢْ ﺗَﺴْﻠِﻴْﻤًﺎ ﻛِﺜﻴْﺮًﺍ
ﺃَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ ﻓَﻴﺎَ ﺍَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍِﺗَّﻘُﻮﺍﺍﻟﻠﻪَ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﺃَﻣَﺮَ ﻭَﺍﻧْﺘَﻬُﻮْﺍ
ﻋَﻤَّﺎ ﻧَﻬَﻰ ﻭَﺍﻋْﻠَﻤُﻮْﺍ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﺃَﻣَﺮَﻛُﻢْ ﺑِﺄَﻣْﺮٍ ﺑَﺪَﺃَ ﻓِﻴْﻪِ
ﺑِﻨَﻔْﺴِﻪِ ﻭَﺛَـﻨَﻰ ﺑِﻤَﻶ ﺋِﻜَﺘِﻪِ ﺑِﻘُﺪْﺳِﻪِ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺗَﻌﺎَﻟَﻰ ﺇِﻥَّ
ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﻣَﻶﺋِﻜَﺘَﻪُ ﻳُﺼَﻠُّﻮْﻥَ ﻋَﻠﻰَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰ ﻳﺂ ﺍَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ
ﺁﻣَﻨُﻮْﺍ ﺻَﻠُّﻮْﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠِّﻤُﻮْﺍ ﺗَﺴْﻠِﻴْﻤًﺎ. ﺍﻟﻠﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ
ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠِّﻢْ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ
ﺳَﻴِّﺪِﻧﺎَ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺍَﻧْﺒِﻴﺂﺋِﻚَ ﻭَﺭُﺳُﻠِﻚَ ﻭَﻣَﻶﺋِﻜَﺔِ
ﺍْﻟﻤُﻘَﺮَّﺑِﻴْﻦَ ﻭَﺍﺭْﺽَ ﺍﻟﻠّﻬُﻢَّ ﻋَﻦِ ﺍْﻟﺨُﻠَﻔَﺎﺀِ ﺍﻟﺮَّﺍﺷِﺪِﻳْﻦَ ﺃَﺑِﻰ
ﺑَﻜْﺮٍ ﻭَﻋُﻤَﺮ ﻭَﻋُﺜْﻤَﺎﻥ ﻭَﻋَﻠِﻰ ﻭَﻋَﻦْ ﺑَﻘِﻴَّﺔِ ﺍﻟﺼَّﺤَﺎﺑَﺔِ
ﻭَﺍﻟﺘَّﺎﺑِﻌِﻴْﻦَ ﻭَﺗَﺎﺑِﻌِﻲ ﺍﻟﺘَّﺎﺑِﻌِﻴْﻦَ ﻟَﻬُﻢْ ﺑِﺎِﺣْﺴَﺎﻥٍ ﺍِﻟَﻯﻴَﻮْﻡِ
ﺍﻟﺪِّﻳْﻦِ ﻭَﺍﺭْﺽَ ﻋَﻨَّﺎ ﻣَﻌَﻬُﻢْ ﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻚَ ﻳَﺎ ﺍَﺭْﺣَﻢَ ﺍﻟﺮَّﺍﺣِﻤِﻴْﻦَ
ﺍَﻟﻠﻬُﻢَّ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴْﻦَ ﻭَﺍْﻟﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕِ ﻭَﺍْﻟﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ
ﻭَﺍْﻟﻤُﺴْﻠِﻤَﺎﺕِ ﺍَﻻَﺣْﻴﺂﺀُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺍْﻻَﻣْﻮَﺍﺕِ ﺍﻟﻠﻬُﻢَّ ﺃَﻋِﺰَّ
ﺍْﻹِﺳْﻼَﻡَ ﻭَﺍْﻟﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ ﻭَﺃَﺫِﻝَّ ﺍﻟﺸِّﺮْﻙَ ﻭَﺍْﻟﻤُﺸْﺮِﻛِﻴْﻦَ
ﻭَﺍﻧْﺼُﺮْ ﻋِﺒَﺎﺩَﻙَ ﺍْﻟﻤُﻮَﺣِّﺪِﻳَّﺔَ ﻭَﺍﻧْﺼُﺮْ ﻣَﻦْ ﻧَﺼَﺮَ ﺍﻟﺪِّﻳْﻦَ
ﻭَﺍﺧْﺬُﻝْ ﻣَﻦْ ﺧَﺬَﻝَ ﺍْﻟﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ ﻭَ ﺩَﻣِّﺮْ ﺃَﻋْﺪَﺍﺀَﺍﻟﺪِّﻳْﻦِ ﻭَﺍﻋْﻞِ
ﻛَﻠِﻤَﺎﺗِﻚَ ﺇِﻟَﻰ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟﺪِّﻳْﻦِ. ﺍﻟﻠﻬُﻢَّ ﺍﺩْﻓَﻊْ ﻋَﻨَّﺎ ﺍْﻟﺒَﻼَﺀَ
ﻭَﺍْﻟﻮَﺑَﺎﺀَ ﻭَﺍﻟﺰَّﻻَﺯِﻝَ ﻭَﺍْﻟﻤِﺤَﻦَ ﻭَﺳُﻮْﺀَ ﺍْﻟﻔِﺘْﻨَﺔِ ﻭَﺍْﻟﻤِﺤَﻦَ ﻣَﺎ
ﻇَﻬَﺮَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻭَﻣَﺎ ﺑَﻄَﻦَ ﻋَﻦْ ﺑَﻠَﺪِﻧَﺎ ﺍِﻧْﺪُﻭﻧِﻴْﺴِﻴَّﺎ ﺧﺂﺻَّﺔً
ﻭَﺳَﺎﺋِﺮِ ﺍْﻟﺒُﻠْﺪَﺍﻥِ ﺍْﻟﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ ﻋﺂﻣَّﺔً ﻳَﺎ ﺭَﺏَّ ﺍْﻟﻌَﺎﻟَﻤِﻴْﻦَ.
ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺁﺗِﻨﺎَ ﻓِﻰ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺣَﺴَﻨَﺔً ﻭَﻓِﻰ ﺍْﻵﺧِﺮَﺓِ ﺣَﺴَﻨَﺔً ﻭَﻗِﻨَﺎ
ﻋَﺬَﺍﺏَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ. ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻇَﻠَﻤْﻨَﺎ ﺍَﻧْﻔُﺴَﻨَﺎﻭَﺍِﻥْ ﻟَﻢْ ﺗَﻐْﻔِﺮْ ﻟَﻨَﺎ
ﻭَﺗَﺮْﺣَﻤْﻨَﺎ ﻟَﻨَﻜُﻮْﻧَﻦَّ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﺨَﺎﺳِﺮِﻳْﻦَ. ﻋِﺒَﺎﺩَﺍﻟﻠﻪِ ! ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ
ﻳَﺄْﻣُﺮُﻧَﺎ ﺑِﺎْﻟﻌَﺪْﻝِ ﻭَﺍْﻹِﺣْﺴَﺎﻥِ ﻭَﺇِﻳْﺘﺂﺀِ ﺫِﻱ ﺍْﻟﻘُﺮْﺑﻰَ ﻭَﻳَﻨْﻬَﻰ
ﻋَﻦِ ﺍْﻟﻔَﺤْﺸﺂﺀِ ﻭَﺍْﻟﻤُﻨْﻜَﺮِ ﻭَﺍْﻟﺒَﻐْﻲ ﻳَﻌِﻈُﻜُﻢْ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗَﺬَﻛَّﺮُﻭْﻥَ
ﻭَﺍﺫْﻛُﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺍْﻟﻌَﻈِﻴْﻢَ ﻳَﺬْﻛُﺮْﻛُﻢْ ﻭَﺍﺷْﻜُﺮُﻭْﻩُ ﻋَﻠﻰَ ﻧِﻌَﻤِﻪِ
ﻳَﺰِﺩْﻛُﻢْ ﻭَﻟَﺬِﻛْﺮُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺃَﻛْﺒَﺮ
Hari raya kurban atau biasa kita sebut Idul Adha
yang kita peringati tiap tahun tak bisa terlepas
dari kisah Nabi Ibrahim sebagaimana terekam
dalam Surat ash-Shaffat ayat 99-111. Meskipun,
praktik kurban sebenarnya sudah dilaksanakan
putra Nabi Adam yakni Qabil dan Habil.
Diceritakan bahwa kurban yang diterima adalah
kurban Habil bukan Qabil. Itu pun bukan daging
atau darah yang Allah terima namun ketulusan
hati dan ketakwaan dari si pemberi kurban.
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali
tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi
ketakwaan dari kamulah yang dapat
mencapainya. (Al-Hajj: 37)
Kendati sejarah kurban sudah berlangsung sejak
generasi pertama umat manusia, namun syariat
ibadah kurban dimulai dari cerita perintah Allah
kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih anak
kesayangannya, Ismail ( ‘alaihissalâm ). Seorang
anak yang ia idam-idamkan bertahun-tahun
karena istrinya sekian lama mandul. Dalam Surat
ash-Shaffat dijelaskan bahwa semula Nabi
Ibrahim berdoa:
Hari raya kurban atau biasa kita sebut Idul Adha
yang kita peringati tiap tahun tak bisa terlepas
dari kisah Nabi Ibrahim sebagaimana terekam
dalam Surat ash-Shaffat ayat 99-111. Meskipun,
praktik kurban sebenarnya sudah dilaksanakan
putra Nabi Adam yakni Qabil dan Habil.
Diceritakan bahwa kurban yang diterima adalah
kurban Habil bukan Qabil. Itu pun bukan daging
atau darah yang Allah terima namun ketulusan
hati dan ketakwaan dari si pemberi kurban.
“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang
anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.”
Allah lalu memberi kabar gembira dengan
anugerah kelahiran seorang anak yang amat
cerdas dan sabar ( ghulâm halîm ). Hanya saja,
ketika anak itu menginjak dewasa, Nabi Ibrahim
diuji dengan sebuah mimpi. Ia berkata, "Wahai
anakku, dalam tidur aku bermimpi berupa wahyu
dari Allah yang meminta aku untuk
menyembelihmu. Bagaimana pendapat kamu?"
Anak yang saleh itu menjawab, "Wahai bapakku,
laksanakanlah perintah Tuhanmu. Insya Allah
kamu akan dapati aku termasuk orang-orang
yang sabar."
Tatkala sang bapak dan anak pasrah kepada
ketentuan Allah, Ibrâhîm pun membawa anaknya
ke suatu tumpukan pasir. Lalu Ibrâhîm
membaringkan Ismail dengan posisi pelipis di
atas tanah dan siap disembelih.
Jamaah shalat Idul Adha hadâkumullâh ,
Atas kehendak Allah, drama penyembelihan anak
manusia itu batal dilaksanakan. Allah berfirman
dalam ayat berikutnya:
“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang
nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor
sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk
Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-
orang yang datang kemudian, (yaitu)
‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim’.
Demikianlah Kami memberi balasan kepada
orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia
termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.”
Hadirin,
Ibadah kurban tahunan yang umat Islam
laksanakan adalah bentuk i’tibar atau
pengambilan pelajaran dari kisah tersebut.
Setidaknya ada tiga pesan yang bisa kita tarik
dari kisah tentang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail
serta ritual penyembelihan hewan kurban secara
umum.
Pertama, tentang totalitas kepatuhan kepada
Allah subhânau wata’âla . Nabi Ibrahim yang
mendapat julukan “khalilullah” (kekasih Allah)
mendapat ujian berat pada saat rasa bahagianya
meluap-luap dengan kehadiran sang buah hati di
dalam rumah tangganya. Lewat perintah
menyembelih Ismail, Allah seolah hendak
mengingatkan Nabi Ibrahim bahwa anak
hanyalah titipan. Anak—betapapun mahalnya kita
menilai—tak boleh melengahkan kita bahwa
hanya Allahlah tujuan akhir dari rasa cinta dan
ketaatan.
Nabi Ibrahim lolos dari ujian ini. Ia membuktikan
bahwa dirinya sanggup mengalahkan egonya
untuk tujuan mempertahankan nilai-nilai Ilahi.
Dengan penuh ketulusan, Nabi Ibrahim menapaki
jalan pendekatan diri kepada Allah sebagaimana
makna qurban , yakni pendekatan diri.
Sementara Nabi Ismail, meski usianya masih
belia, mampu membuktikan diri sebagai anak
berbakti dan patuh kepada perintah Tuhannya.
Yang menarik, ayahnya menyampaikan perintah
tersebut dengan memohon pendapatnya terlebih
dahulu, dengan tutur kata yang halus, tanpa
unsur paksaan. Atas dasar kesalehan dan
kesabaran yang ia miliki, ia pun memenuhi
panggilan Tuhannya.
Jamaah shalat Idul Adha hadâkumullâh ,
Pelajaran kedua adalah tentang kemuliaan
manusia. Dalam kisah itu di satu sisi kita
diingatkan untuk jangan menganggap mahal
sesuatu bila itu untuk mempertahankan nilai-
nilai ketuhanan, namun di sisi lain kita juga
diimbau untuk tidak meremehkan nyawa dan
darah manusia. Penggantian Nabi Ismail dengan
domba besar adalah pesan nyata bahwa
pengorbanan dalam bentuk tubuh manusia—
sebagaimana yang berlangsung dalam tradisi
sejumlah kelompok pada zaman dulu—adalah hal
yang diharamkan.
Manusia dengan manusia lain sesungguhnya
adalah saudara. Mereka dilahirkan dari satu
bapak, yakni Nabi Adam ‘alaihissalâm . Seluruh
manusia ibarat satu tubuh yang diciptakan Allah
dalam kemuliaan. Karena itu membunuh atau
menyakiti satu manusia ibarat membunuh
manusia atau menyakiti manusia secara
keseluruhan. Larangan mengorbankan manusia
sebetulnya penegasan kembali tentang luhurnya
kemanusiaan di mata Islam dan karenanya mesti
dijamin hak-haknya.
Pelajaran yang ketiga yang bisa kita ambil
adalah tentang hakikat pengorbanan. Sedekah
daging hewan kurban hanyalah simbol dari
makna korban yang sejatinya sangat luas,
meliputi pengorbanan dalam wujud harta benda,
tenaga, pikiran, waktu, dan lain sebagainya.
Pengorbanan merupakan manifestasi dari
kesadaran kita sebagai makhluk sosial.
Bayangkan, bila masing-masing manusia
sekadar memenuhi ego dan kebutuhan sendiri
tanpa peduli dengan kebutuhan orang lain,
alangkah kacaunya kehidupan ini. Orang mesti
mengorbankan sedikit waktunya, misalnya, untuk
mengantre dalam sebuah loket pejualan tiket,
bersedia menghentikan sejenak kendaraannya
saat lampu merah lalu lintas menyala, dan lain-
lain. Sebab, keserakahan hanya layak dimiliki
para binatang. Di sinilah perlunya kita
“menyembelih” ego kebinatangan kita, untuk
menggapai kedekatan ( qurb ) kepada Allah,
karena esensi kurban adalah solidaritas sesama
dan ketulusan murni untuk mengharap keridhaan
Allah. Wallahu a’lam .
*CONTOH KHUTBAH IDUL ADHA*
Khutbah I
ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ. ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ
ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ. ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ. ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮْ
ﻛَﺒِﻴْﺮًﺍ ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟﻠﻪِ ﻛَﺜِﻴْﺮًﺍ ﻭَﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺑُﻜْﺮَﺓً ﻭَﺃَﺻِﻴْﻼً،
ﻟَﺎﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺣْﺪَﻩُ، ﺻَﺪَﻕَ ﻭَﻋْﺪَﻩُ ﻭَﻧَﺼَﺮَ ﻋَﺒْﺪَﻩُ ﻭَﺃَﻋَﺰَّ
ﺟُﻨْﺪَﻩُ ﻭَﻫَﺰَﻡَ ﺍﻟْﺄَﺣْﺰَﺍﺏَ ﻭَﺣْﺪَﻩُ، ﻻَﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺍﻟﻠﻪُ
ﺃَﻛْﺒَﺮُ، ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﻭَﻟﻠﻪِ ﺍْﻟﺤَﻤْﺪُ. ﺍﻟﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺧَﻠَﻖَ
ﺍﻟﺰّﻣَﺎﻥَ ﻭَﻓَﻀَّﻞَ ﺑَﻌْﻀَﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺑَﻌْﺾٍ ﻓَﺨَﺺَّ ﺑَﻌْﺾُ
ﺍﻟﺸُّﻬُﻮْﺭِ ﻭَﺍﻷَﻳَّﺎﻡِ ﻭَﺍﻟَﻠﻴَﺎﻟِﻲ ﺑِﻤَﺰَﺍﻳَﺎ ﻭَﻓَﻀَﺎﺋِﻞَ ﻳُﻌَﻈَّﻢُ ﻓِﻴْﻬَﺎ
ﺍﻷَﺟْﺮُ ﻭﺍﻟﺤَﺴَﻨَﺎﺕُ. ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺣْﺪَﻩُ ﻻَ
ﺷَﺮِﻳْﻚَ ﻟَﻪُ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﺳَﻴِّﺪَﻧﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ
ﺍﻟﺪَّﺍﻋِﻰ ﺑِﻘَﻮْﻟِﻪِ ﻭَﻓِﻌْﻠِﻪِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺮَّﺷَﺎﺩِ. ﺍﻟﻠّﻬُﻢَّ ﺻَﻞّ ﻭﺳّﻠِّﻢْ
ﻋﻠَﻰ ﻋَﺒْﺪِﻙَ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟِﻚَ ﻣُﺤَﻤّﺪٍ ﻭِﻋَﻠَﻰ ﺁﻟِﻪ ﻭﺃﺻْﺤَﺎﺑِﻪِ
ﻫُﺪَﺍﺓِ ﺍﻷَﻧَﺎﻡِ ﻓﻲ ﺃَﻧْﺤَﺎﺀِ ﺍﻟﺒِﻼَﺩِ. ﺃﻣَّﺎ ﺑﻌْﺪُ، ﻓﻴَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ
ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺑِﻔِﻌْﻞِ ﺍﻟﻄَّﺎﻋَﺎﺕِ
ﻓَﻘَﺪْ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟﻰَ ﻓِﻲ ﻛِﺘَﺎﺑِﻪِ ﺍﻟْﻜَﺮِﻳْﻢِ: ﺇِﻧَّﺎ ﺃَﻋْﻄَﻴْﻨَﺎﻙَ
ﺍﻟْﻜَﻮْﺛَﺮَ. ﻓَﺼَﻞِّ ﻟِﺮَﺑِّﻚَ ﻭَﺍﻧْﺤَﺮْ. ﺇِﻥَّ ﺷَﺎﻧِﺌَﻚَ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﺄَﺑْﺘَﺮ
ﻟَﻦْ ﻳَﻨَﺎﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟُﺤُﻮﻣُﻬَﺎ ﻭَﻻ ﺩِﻣَﺎﺅُﻫَﺎ ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻨَﺎﻟُﻪُ
ﺍﻟﺘَّﻘْﻮَﻯ ﻣِﻨْﻜُﻢ
ﺭَﺏِّ ﻫَﺐْ ﻟِﻲ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤِﻴﻦ
ﺇِﻥَّ ﻫَﺬَﺍ ﻟَﻬُﻮَ ﺍﻟْﺒَﻠَﺎﺀُ ﺍﻟْﻤُﺒِﻴﻦُ. ﻭَﻓَﺪَﻳْﻨَﺎﻩُ ﺑِﺬِﺑْﺢٍ ﻋَﻈِﻴﻢٍ.
ﻭَﺗَﺮَﻛْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺂَﺧِﺮِﻳﻦَ. ﺳَﻠَﺎﻡٌ ﻋَﻠَﻰ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢَ.
ﻛَﺬَﻟِﻚَ ﻧَﺠْﺰِﻱ ﺍﻟْﻤُﺤْﺴِﻨِﻴﻦَ. ﺇِﻧَّﻪُ ﻣِﻦْ ﻋِﺒَﺎﺩِﻧَﺎ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦ
ﺑَﺎﺭَﻙَ ﺍﻟﻠﻪ ﻟِﻲ ﻭَﻟَﻜُﻢْ ﻓِﻰ ﺍْﻟﻘُﺮْﺁﻥِ ﺍْﻟﻌَﻈِﻴْﻢِ، ﻭَﻧَﻔَﻌَﻨِﻲ
ﻭَﺇِﻳَّﺎﻛُﻢْ ﺑِﻤَﺎﻓِﻴْﻪِ ﻣِﻦْ ﺁﻳَﺔِ ﻭَﺫِﻛْﺮِ ﺍﻟْﺤَﻜِﻴْﻢِ ﻭَﺗَﻘَﺒَّﻞَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻣِﻨَّﺎ
ﻭَﻣِﻨْﻜُﻢْ ﺗِﻼَﻭَﺗَﻪُ ﻭَﺇِﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺴَّﻤِﻴْﻊُ ﺍﻟﻌَﻠِﻴْﻢُ، ﻭَﺃَﻗُﻮْﻝُ
ﻗَﻮْﻟِﻲ ﻫَﺬَﺍ ﻓَﺄﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُ ﺍﻟﻠﻪَ ﺍﻟﻌَﻈِﻴْﻢَ ﺇِﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻐَﻔُﻮْﺭُ
ﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢ
Khutbah II
ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﺍَﻟﻠﻪُ
ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ.
ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟﻠﻪِ ﻋَﻠﻰَ ﺇِﺣْﺴَﺎﻧِﻪِ ﻭَﺍﻟﺸُّﻜْﺮُ ﻟَﻪُ ﻋَﻠﻰَ ﺗَﻮْﻓِﻴْﻘِﻪِ
ﻭَﺍِﻣْﺘِﻨَﺎﻧِﻪِ. ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺍِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺣْﺪَﻩُ ﻻَ
ﺷَﺮِﻳْﻚَ ﻟَﻪُ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃﻥَّ ﺳَﻴِّﺪَﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ
ﺍﻟﺪَّﺍﻋِﻰ ﺇﻟﻰَ ﺭِﺿْﻮَﺍﻧِﻪِ. ﺍﻟﻠﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ
ﻭِﻋَﻠَﻰ ﺍَﻟِﻪِ ﻭَﺍَﺻْﺤَﺎﺑِﻪِ ﻭَﺳَﻠِّﻢْ ﺗَﺴْﻠِﻴْﻤًﺎ ﻛِﺜﻴْﺮًﺍ
ﺃَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ ﻓَﻴﺎَ ﺍَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍِﺗَّﻘُﻮﺍﺍﻟﻠﻪَ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﺃَﻣَﺮَ ﻭَﺍﻧْﺘَﻬُﻮْﺍ
ﻋَﻤَّﺎ ﻧَﻬَﻰ ﻭَﺍﻋْﻠَﻤُﻮْﺍ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﺃَﻣَﺮَﻛُﻢْ ﺑِﺄَﻣْﺮٍ ﺑَﺪَﺃَ ﻓِﻴْﻪِ
ﺑِﻨَﻔْﺴِﻪِ ﻭَﺛَـﻨَﻰ ﺑِﻤَﻶ ﺋِﻜَﺘِﻪِ ﺑِﻘُﺪْﺳِﻪِ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺗَﻌﺎَﻟَﻰ ﺇِﻥَّ
ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﻣَﻶﺋِﻜَﺘَﻪُ ﻳُﺼَﻠُّﻮْﻥَ ﻋَﻠﻰَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰ ﻳﺂ ﺍَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ
ﺁﻣَﻨُﻮْﺍ ﺻَﻠُّﻮْﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠِّﻤُﻮْﺍ ﺗَﺴْﻠِﻴْﻤًﺎ. ﺍﻟﻠﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ
ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠِّﻢْ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ
ﺳَﻴِّﺪِﻧﺎَ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺍَﻧْﺒِﻴﺂﺋِﻚَ ﻭَﺭُﺳُﻠِﻚَ ﻭَﻣَﻶﺋِﻜَﺔِ
ﺍْﻟﻤُﻘَﺮَّﺑِﻴْﻦَ ﻭَﺍﺭْﺽَ ﺍﻟﻠّﻬُﻢَّ ﻋَﻦِ ﺍْﻟﺨُﻠَﻔَﺎﺀِ ﺍﻟﺮَّﺍﺷِﺪِﻳْﻦَ ﺃَﺑِﻰ
ﺑَﻜْﺮٍ ﻭَﻋُﻤَﺮ ﻭَﻋُﺜْﻤَﺎﻥ ﻭَﻋَﻠِﻰ ﻭَﻋَﻦْ ﺑَﻘِﻴَّﺔِ ﺍﻟﺼَّﺤَﺎﺑَﺔِ
ﻭَﺍﻟﺘَّﺎﺑِﻌِﻴْﻦَ ﻭَﺗَﺎﺑِﻌِﻲ ﺍﻟﺘَّﺎﺑِﻌِﻴْﻦَ ﻟَﻬُﻢْ ﺑِﺎِﺣْﺴَﺎﻥٍ ﺍِﻟَﻯﻴَﻮْﻡِ
ﺍﻟﺪِّﻳْﻦِ ﻭَﺍﺭْﺽَ ﻋَﻨَّﺎ ﻣَﻌَﻬُﻢْ ﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻚَ ﻳَﺎ ﺍَﺭْﺣَﻢَ ﺍﻟﺮَّﺍﺣِﻤِﻴْﻦَ
ﺍَﻟﻠﻬُﻢَّ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴْﻦَ ﻭَﺍْﻟﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕِ ﻭَﺍْﻟﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ
ﻭَﺍْﻟﻤُﺴْﻠِﻤَﺎﺕِ ﺍَﻻَﺣْﻴﺂﺀُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺍْﻻَﻣْﻮَﺍﺕِ ﺍﻟﻠﻬُﻢَّ ﺃَﻋِﺰَّ
ﺍْﻹِﺳْﻼَﻡَ ﻭَﺍْﻟﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ ﻭَﺃَﺫِﻝَّ ﺍﻟﺸِّﺮْﻙَ ﻭَﺍْﻟﻤُﺸْﺮِﻛِﻴْﻦَ
ﻭَﺍﻧْﺼُﺮْ ﻋِﺒَﺎﺩَﻙَ ﺍْﻟﻤُﻮَﺣِّﺪِﻳَّﺔَ ﻭَﺍﻧْﺼُﺮْ ﻣَﻦْ ﻧَﺼَﺮَ ﺍﻟﺪِّﻳْﻦَ
ﻭَﺍﺧْﺬُﻝْ ﻣَﻦْ ﺧَﺬَﻝَ ﺍْﻟﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ ﻭَ ﺩَﻣِّﺮْ ﺃَﻋْﺪَﺍﺀَﺍﻟﺪِّﻳْﻦِ ﻭَﺍﻋْﻞِ
ﻛَﻠِﻤَﺎﺗِﻚَ ﺇِﻟَﻰ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟﺪِّﻳْﻦِ. ﺍﻟﻠﻬُﻢَّ ﺍﺩْﻓَﻊْ ﻋَﻨَّﺎ ﺍْﻟﺒَﻼَﺀَ
ﻭَﺍْﻟﻮَﺑَﺎﺀَ ﻭَﺍﻟﺰَّﻻَﺯِﻝَ ﻭَﺍْﻟﻤِﺤَﻦَ ﻭَﺳُﻮْﺀَ ﺍْﻟﻔِﺘْﻨَﺔِ ﻭَﺍْﻟﻤِﺤَﻦَ ﻣَﺎ
ﻇَﻬَﺮَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻭَﻣَﺎ ﺑَﻄَﻦَ ﻋَﻦْ ﺑَﻠَﺪِﻧَﺎ ﺍِﻧْﺪُﻭﻧِﻴْﺴِﻴَّﺎ ﺧﺂﺻَّﺔً
ﻭَﺳَﺎﺋِﺮِ ﺍْﻟﺒُﻠْﺪَﺍﻥِ ﺍْﻟﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ ﻋﺂﻣَّﺔً ﻳَﺎ ﺭَﺏَّ ﺍْﻟﻌَﺎﻟَﻤِﻴْﻦَ.
ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺁﺗِﻨﺎَ ﻓِﻰ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺣَﺴَﻨَﺔً ﻭَﻓِﻰ ﺍْﻵﺧِﺮَﺓِ ﺣَﺴَﻨَﺔً ﻭَﻗِﻨَﺎ
ﻋَﺬَﺍﺏَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ. ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻇَﻠَﻤْﻨَﺎ ﺍَﻧْﻔُﺴَﻨَﺎﻭَﺍِﻥْ ﻟَﻢْ ﺗَﻐْﻔِﺮْ ﻟَﻨَﺎ
ﻭَﺗَﺮْﺣَﻤْﻨَﺎ ﻟَﻨَﻜُﻮْﻧَﻦَّ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﺨَﺎﺳِﺮِﻳْﻦَ. ﻋِﺒَﺎﺩَﺍﻟﻠﻪِ ! ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ
ﻳَﺄْﻣُﺮُﻧَﺎ ﺑِﺎْﻟﻌَﺪْﻝِ ﻭَﺍْﻹِﺣْﺴَﺎﻥِ ﻭَﺇِﻳْﺘﺂﺀِ ﺫِﻱ ﺍْﻟﻘُﺮْﺑﻰَ ﻭَﻳَﻨْﻬَﻰ
ﻋَﻦِ ﺍْﻟﻔَﺤْﺸﺂﺀِ ﻭَﺍْﻟﻤُﻨْﻜَﺮِ ﻭَﺍْﻟﺒَﻐْﻲ ﻳَﻌِﻈُﻜُﻢْ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗَﺬَﻛَّﺮُﻭْﻥَ
ﻭَﺍﺫْﻛُﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺍْﻟﻌَﻈِﻴْﻢَ ﻳَﺬْﻛُﺮْﻛُﻢْ ﻭَﺍﺷْﻜُﺮُﻭْﻩُ ﻋَﻠﻰَ ﻧِﻌَﻤِﻪِ
ﻳَﺰِﺩْﻛُﻢْ ﻭَﻟَﺬِﻛْﺮُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺃَﻛْﺒَﺮ
Hari raya kurban atau biasa kita sebut Idul Adha
yang kita peringati tiap tahun tak bisa terlepas
dari kisah Nabi Ibrahim sebagaimana terekam
dalam Surat ash-Shaffat ayat 99-111. Meskipun,
praktik kurban sebenarnya sudah dilaksanakan
putra Nabi Adam yakni Qabil dan Habil.
Diceritakan bahwa kurban yang diterima adalah
kurban Habil bukan Qabil. Itu pun bukan daging
atau darah yang Allah terima namun ketulusan
hati dan ketakwaan dari si pemberi kurban.
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali
tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi
ketakwaan dari kamulah yang dapat
mencapainya. (Al-Hajj: 37)
Kendati sejarah kurban sudah berlangsung sejak
generasi pertama umat manusia, namun syariat
ibadah kurban dimulai dari cerita perintah Allah
kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih anak
kesayangannya, Ismail ( ‘alaihissalâm ). Seorang
anak yang ia idam-idamkan bertahun-tahun
karena istrinya sekian lama mandul. Dalam Surat
ash-Shaffat dijelaskan bahwa semula Nabi
Ibrahim berdoa:
Hari raya kurban atau biasa kita sebut Idul Adha
yang kita peringati tiap tahun tak bisa terlepas
dari kisah Nabi Ibrahim sebagaimana terekam
dalam Surat ash-Shaffat ayat 99-111. Meskipun,
praktik kurban sebenarnya sudah dilaksanakan
putra Nabi Adam yakni Qabil dan Habil.
Diceritakan bahwa kurban yang diterima adalah
kurban Habil bukan Qabil. Itu pun bukan daging
atau darah yang Allah terima namun ketulusan
hati dan ketakwaan dari si pemberi kurban.
“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang
anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.”
Allah lalu memberi kabar gembira dengan
anugerah kelahiran seorang anak yang amat
cerdas dan sabar ( ghulâm halîm ). Hanya saja,
ketika anak itu menginjak dewasa, Nabi Ibrahim
diuji dengan sebuah mimpi. Ia berkata, "Wahai
anakku, dalam tidur aku bermimpi berupa wahyu
dari Allah yang meminta aku untuk
menyembelihmu. Bagaimana pendapat kamu?"
Anak yang saleh itu menjawab, "Wahai bapakku,
laksanakanlah perintah Tuhanmu. Insya Allah
kamu akan dapati aku termasuk orang-orang
yang sabar."
Tatkala sang bapak dan anak pasrah kepada
ketentuan Allah, Ibrâhîm pun membawa anaknya
ke suatu tumpukan pasir. Lalu Ibrâhîm
membaringkan Ismail dengan posisi pelipis di
atas tanah dan siap disembelih.
Jamaah shalat Idul Adha hadâkumullâh ,
Atas kehendak Allah, drama penyembelihan anak
manusia itu batal dilaksanakan. Allah berfirman
dalam ayat berikutnya:
“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang
nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor
sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk
Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-
orang yang datang kemudian, (yaitu)
‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim’.
Demikianlah Kami memberi balasan kepada
orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia
termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.”
Hadirin,
Ibadah kurban tahunan yang umat Islam
laksanakan adalah bentuk i’tibar atau
pengambilan pelajaran dari kisah tersebut.
Setidaknya ada tiga pesan yang bisa kita tarik
dari kisah tentang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail
serta ritual penyembelihan hewan kurban secara
umum.
Pertama, tentang totalitas kepatuhan kepada
Allah subhânau wata’âla . Nabi Ibrahim yang
mendapat julukan “khalilullah” (kekasih Allah)
mendapat ujian berat pada saat rasa bahagianya
meluap-luap dengan kehadiran sang buah hati di
dalam rumah tangganya. Lewat perintah
menyembelih Ismail, Allah seolah hendak
mengingatkan Nabi Ibrahim bahwa anak
hanyalah titipan. Anak—betapapun mahalnya kita
menilai—tak boleh melengahkan kita bahwa
hanya Allahlah tujuan akhir dari rasa cinta dan
ketaatan.
Nabi Ibrahim lolos dari ujian ini. Ia membuktikan
bahwa dirinya sanggup mengalahkan egonya
untuk tujuan mempertahankan nilai-nilai Ilahi.
Dengan penuh ketulusan, Nabi Ibrahim menapaki
jalan pendekatan diri kepada Allah sebagaimana
makna qurban , yakni pendekatan diri.
Sementara Nabi Ismail, meski usianya masih
belia, mampu membuktikan diri sebagai anak
berbakti dan patuh kepada perintah Tuhannya.
Yang menarik, ayahnya menyampaikan perintah
tersebut dengan memohon pendapatnya terlebih
dahulu, dengan tutur kata yang halus, tanpa
unsur paksaan. Atas dasar kesalehan dan
kesabaran yang ia miliki, ia pun memenuhi
panggilan Tuhannya.
Jamaah shalat Idul Adha hadâkumullâh ,
Pelajaran kedua adalah tentang kemuliaan
manusia. Dalam kisah itu di satu sisi kita
diingatkan untuk jangan menganggap mahal
sesuatu bila itu untuk mempertahankan nilai-
nilai ketuhanan, namun di sisi lain kita juga
diimbau untuk tidak meremehkan nyawa dan
darah manusia. Penggantian Nabi Ismail dengan
domba besar adalah pesan nyata bahwa
pengorbanan dalam bentuk tubuh manusia—
sebagaimana yang berlangsung dalam tradisi
sejumlah kelompok pada zaman dulu—adalah hal
yang diharamkan.
Manusia dengan manusia lain sesungguhnya
adalah saudara. Mereka dilahirkan dari satu
bapak, yakni Nabi Adam ‘alaihissalâm . Seluruh
manusia ibarat satu tubuh yang diciptakan Allah
dalam kemuliaan. Karena itu membunuh atau
menyakiti satu manusia ibarat membunuh
manusia atau menyakiti manusia secara
keseluruhan. Larangan mengorbankan manusia
sebetulnya penegasan kembali tentang luhurnya
kemanusiaan di mata Islam dan karenanya mesti
dijamin hak-haknya.
Pelajaran yang ketiga yang bisa kita ambil
adalah tentang hakikat pengorbanan. Sedekah
daging hewan kurban hanyalah simbol dari
makna korban yang sejatinya sangat luas,
meliputi pengorbanan dalam wujud harta benda,
tenaga, pikiran, waktu, dan lain sebagainya.
Pengorbanan merupakan manifestasi dari
kesadaran kita sebagai makhluk sosial.
Bayangkan, bila masing-masing manusia
sekadar memenuhi ego dan kebutuhan sendiri
tanpa peduli dengan kebutuhan orang lain,
alangkah kacaunya kehidupan ini. Orang mesti
mengorbankan sedikit waktunya, misalnya, untuk
mengantre dalam sebuah loket pejualan tiket,
bersedia menghentikan sejenak kendaraannya
saat lampu merah lalu lintas menyala, dan lain-
lain. Sebab, keserakahan hanya layak dimiliki
para binatang. Di sinilah perlunya kita
“menyembelih” ego kebinatangan kita, untuk
menggapai kedekatan ( qurb ) kepada Allah,
karena esensi kurban adalah solidaritas sesama
dan ketulusan murni untuk mengharap keridhaan
Allah. Wallahu a’lam .
Comments
Post a Comment