khutbah idul fitri

BAB 4


*CONTOH KHUTBAH IDUL FITRI

Khutbah I

ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ، ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ
ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ، ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ
ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﻛَﺒِﻴْﺮًﺍ ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ِﻟﻠﻪِ ﻛَﺜِﻴْﺮًﺍ ﻭَﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺑُﻜْﺮَﺓً
ﻭَﺃَﺻِﻴْﻼً، ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺣْﺪَﻩُ، ﺻَﺪَﻕَ ﻭَﻋْﺪَﻩُ، ﻭَﻧَﺼَﺮَ
ﻋَﺒْﺪَﻩُ، ﻭَﺃَﻋَﺰَّ ﺟُﻨْﺪَﻩُ، ﻭَﻫَﺰَﻡَ ﺍْﻷَﺣْﺰَﺍﺏَ ﻭَﺣْﺪَﻩُ، ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ
ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﻻَ ﻧَﻌْﺒُﺪُ ﺇِﻻَّ ﺇِﻳَّﺎﻩُ ﻣُﺨْﻠِﺼِﻴْﻦَ ﻟَﻪُ ﺍﻟﺪِّﻳْﻦَ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺮِﻩَ
ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮُﻭْﻥَ، ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ، ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﻭَﻟﻠﻪِ
ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ
ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ِﻟﻠﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﻭَﻓَّﻘَﻨَﺎ ِﻹِﺗْﻤَﺎﻡِ ﺷَﻬْﺮِ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﻭَﺃَﻋَﺎﻧَﻨﺎَ
ﻋَﻠﻰَ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡِ ﻭَﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻡِ ﻭَﺟَﻌَﻠَﻨَﺎ ﺧَﻴْﺮَ ﺃُﻣَّﺔٍ ﺃُﺧْﺮِﺟَﺖْ
ﻟﻠِﻨَّﺎﺱِ. ﻧَﺤْﻤَﺪُﻩُ ﻋَﻠَﻰ ﺗَﻮْﻓِﻴْﻘِﻪِ ﻭَﻫِﺪَﺍﻳَﺘِﻪِ. ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ
ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺣْﺪَﻩُ ﻻَ ﺷَﺮِﻳْﻚَ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤَﻠِﻚُ ﺍﻟْﺤَﻖُ ﺍﻟْﻤُﺒِﻴْﻦُ،
ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ ﺧَﺎﺗَﻢُ ﺍﻟﻨَّﺒِﻴِّﻴْﻦَ.
ﻭَﺍﻟﺼَّﻼَﺓُ ﻭَﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻟِﻪِ
ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪِ ﻭَﺍﻟﺘَّﺎﺑِﻌِﻴْﻦَ ﻭَﻣَﻦْ ﺗَﺒِﻌَﻬُﻢْ ﺑِﺈِﺣْﺴَﺎﻥٍ ﺇِﻟَﻰ ﻳَﻮْﻡِ
ﺍﻟﺪِّﻳْﻦَ، ﺃَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ: ﻓَﻴَﺎ ﻋِﺒَﺎﺩَ ﺍﻟﻠﻪِ، ﺃُﻭْﺻِﻴْﻜُﻢْ ﻭَﻧَﻔْﺴِﻲْ
ﺑِﺘَﻘْﻮَﻯ ﺍﻟﻠﻪِ ﻓَﻘَﺪْ ﻓَﺎﺯَ ﺍﻟْﻤُﺘَّﻘُﻮْﻥَ، ﻭَﺃَﺣُﺴُّﻜُﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﻃَﺎﻋَﺘِﻪِ
ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗُﺮْﺣَﻤُﻮْﻥَ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﺍﻟْﻌَﻈِﻴْﻢِ :
ﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﺍﻟﺮَّﺟِﻴﻢِ، ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ
ﺍﻟﺮَّﺣِﻴﻢِ ﺷَﻬْﺮُ ﺭَﻣَﻀﺎﻥَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺃُﻧْﺰِﻝَ ﻓِﻴْﻪِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﻫُﺪًﻯ
ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﻭَﺑَﻴِّﻨﺎﺕٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻬُﺪَﻯ ﻭَﺍﻟْﻔُﺮْﻗﺎﻥِ ﻓَﻤَﻦْ ﺷَﻬِﺪَ ﻣِﻨْﻜُﻢُ
ﺍﻟﺸَّﻬْﺮَ ﻓَﻠْﻴَﺼُﻤْﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻣَﺮِﻳْﻀﺎً ﺃَﻭْ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻔَﺮٍ
ﻓَﻌِﺪَّﺓٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻳَّﺎﻡٍ ﺃُﺧَﺮَ ﻳُﺮِﻳﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻜُﻢُ ﺍﻟْﻴُﺴْﺮَ ﻭَﻻ ﻳُﺮِﻳْﺪُ
ﺑِﻜُﻢُ ﺍﻟْﻌُﺴْﺮَ ﻭَﻟِﺘُﻜْﻤِﻠُﻮﺍ ﺍﻟْﻌِﺪَّﺓَ ﻭَﻟِﺘُﻜَﺒِّﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ
ﻫَﺪَﺍﻛُﻢْ ﻭَﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗَﺸْﻜُﺮُﻭﻥَ

Allahu Akbar, wa lillahilh hamd,
Lebaran atau momen Idul Fitri hampir selalu
diwarnai dengan gegap gempita kegembiraan
umat Islam di berbagai penjuru. Gema takbir
dikumandangkan di malam harinya, kadang
disertai sejumlah aksi pawai. Pada pagi harinya pun mayoritas dari mereka mengenakan pakaian
serba baru, makan makanan khas dan istimewa, serta bersiap bepergian untuk silaturahim ke sanak kerabat hingga berkunjung ke beberapa wahana liburan yang menarik.
Umat Islam merayakan sebuah momen yang
mereka sebut-sebut sebagai “hari kemenangan”.
Tapi kemenangan atas apa?
Jamaah shalat Idul Fitri hafidhakumullah,
Idul Fitri tiba ketika umat Islam menjalankan
ibadah wajib puasa Ramadhan selama satu
bulan penuh. Sepanjang bulan suci tersebut,
mereka menahan lapar, haus, hubungan seks,
dan hal-hal lain yang membatalkan puasa mulai
dari terbit fajar hingga matahari terbenam.
Secara bahasa, shaum (puasa) memang
bersinonim dengan imsâk yang artinya menahan.
Ramadhan merupakan arena kita berlatih
menahan diri dari segala macam godaan
material yang bisa membuat kita lupa diri.
Proses latihan tersebut diwujudkan dalam bentuk
larangan terhadap hal-hal yang sebelumnya
halal, seperti makan dan minum. Inilah proses
penempaan diri. Targetnya: bila manusia
menahan diri dari yang halal-halal saja mampu,
apalagi menahan diri dari yang haram-haram.
Puasa itu ibarat pekan ujian nasional bagi siswa
sekolah. Selama seminggu itu para murid
digembleng untuk belajar lebih serius,
mengurangi jam bermain, dan menghindari hal-
hal lain yang bisa mengganggu hasil ujian
tersebut.
Ramadhan tentu lebih dari sekadar latihan. Ia
wahana penempaan diri sekaligus saat-saat
dilimpahkannya rahmat ( rahmah ), ampunan
( maghfirah), dan pembebasan dari api neraka
( itqun minan nâr). Aktivitas ibadah sunnah
diganjar senilai ibadah wajib, sementara ibadah
wajib membuahkan pahala berlipat-lipat.
Selayak siswa sekolah yang mendapatkan rapor
selepas melewati masa-masa krusial ujian,
demikian pula orang-orang yang berpuasa.
Setelah melewati momen-momen penting
sebulan penuh, umat Islam pun berhak
mendapatkan hasilnya. Apa hasil itu?
Jawabannya tak lain adalah predikat “takwa”,
sebagaimana terdapat di al-Baqarah ayat 183:

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻛُﺘِﺐَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢُ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ ﻛَﻤَﺎ ﻛُﺘِﺐَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻣِﻦْ
ﻗَﺒْﻠِﻜُﻢْ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗَﺘَّﻘُﻮﻥَ

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas
kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas
orang-orang sebelum kamu agar kamu
bertakwa."
Takwa merupakan standar paling tinggi tingkat
kemuliaan manusia. Seberapa tinggi derajat
mulia manusia tergantung pada seberapa tinggi
takwanya. Inna akramakum ‘indallâhi
atqâkum. Dalam konteks puasa Ramadhan,
tentu takwa tak bisa digapai dengan sebatas
menahan lapar dan dahaga. Ada yang lebih
substansial yang perlu ditahan, yakni
tergantungnya manusia kepada hal-hal selain
Allah, termasuk hawa nafsu. Orang yang
berpuasa dengan sungguh-sungguh akan
mencegah dirinya dari segala macam perbuatan
tercela semacam mengubar syahwat, berbohong,
bergunjing, merendahkan orang lain, riya’,
menyakiti pihak lain, dan lain sebagainya. Tanpa
itu, puasa kita mungkin sah secara fiqih, tapi
belum tentu berharga di mata Allah subhanahu
wata’ala .
Rasulullah sendiri pernah bersabda:

ﻛَﻢْ ﻣِﻦْ ﺻَﺎﺋِﻢٍ ﻟَﻴْﺲَ ﻟَﻪُ ﻣِﻦْ ﺻِﻴَﺎﻣِﻪِ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟْﺠُﻮﻉُ

Artinya: “Banyak orang yang berpuasa, namun ia
tak mendapatkan apa pun dari puasanya selain
rasa lapar saja.” (HR Imam Ahmad)
Jamaah shalat Idul Fitri hafidhakumullah,
Karena puasa sudah kita lewati dan tak ada
jaminan kita bakal bertemu Ramadhan lagi,
pertanyaan yang lebih relevan bukan saja
“kemenangan atas apa yang sedang kita Idul
Fitri?” tapi juga “apa tanda-tanda kita telah
mencapai kemenangan?”. Jangan-jangan kita
seperti yang disabdakan Nabi, termasuk
golongan yang sekadar mendapatkan lapar dan
dahaga, tanpa pahala?
Jika standar capaian tertinggi puasa adalah
takwa, maka tanda-tanda bahwa kita sukses
melewati Ramadhan pun tak lepas dari ciri-ciri
muttaqîn (orang-orang yang bertakwa). Semakin
tinggi kualitas takwa kita, indikasi semakin tinggi
pula kesuksean kita berpuasa. Demikian juga
sebaliknya, semakin hilang kualitas takwa dalam
diri kita, pertanda semakin gagal kita sepanjang
Ramadhan.
Lantas, apa saja ciri-ciri orang bertakwa? Ada
beberapa ayat Al-Qur’an yang menjelaskan ciri-
ciri orang takwa. Salah satu ayatnya terdapat
dalam Surat Ali Imran:

ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﻨْﻔِﻘُﻮﻥَ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴَّﺮَّﺍﺀِ ﻭَﺍﻟﻀَّﺮَّﺍﺀِ ﻭَﺍﻟْﻜَﺎﻇِﻤِﻴﻦَ
ﺍﻟْﻐَﻴْﻆَ ﻭَﺍﻟْﻌَـــﺎﻓِﻴﻦَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّــﺎﺱِ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻳُﺤِﺐُّ
ﺍﻟْﻤُـﺤْﺴِﻨِــﻴﻦَ

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan
(hartanya) pada saat sarrâ’ (senang) dan pada
saat dlarrâ’ (susah), dan orang-orang yang
menahan amarahnya dan memaafkan
(kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang
yang berbuat kebajikan.” (QS Ali Imran: 134)
Jamaah shalat Idul Fitri hafidhakumullah,
Ayat tersebut memaparkan tiga sifat yang
menjadi ciri orang bertakwa. Pertama, gemar
menyedekahkan sebagian hartanya dalam
kondisi senang ataupun sulit. Orang bertakwa
tidak akan sibuk hanya memikirkan diri sendiri.
Ia mesti berjiwa sosial, menaruh empati kepada
sesama, serta rela berkorban untuk orang lain
dalam setiap keadaan. Bahkan, ia tidak hanya
suka memberi kepada orang yang dicintainya,
tapi juga kepada orang-orang memang
membutuhkan.
Dalam konteks Ramadhan dan Idul Fitri, sifat
takwa pertama ini sebenarnya sudah mulai
didorong oleh Islam melalui ajaran zakat fitrah.
Zakat fitrah merupakan simbol bahwa “rapor
kelulusan” puasa harus ditandai dengan
mengorbankan sebagian kekayaan kita dan
menaruh kepedulian kepada mereka yang lemah.
Ayat tersebut menggunakan fi’il mudhari’
yunfiqûna yang bermakna aktivitas itu
berlangsung konstan/terus-menerus. Dari sini,
dapat dipahami bahwa zakat fitrah hanyalah
awal atau “pancingan” bagi segenap kepedulian
sosial tanpa henti pada bulan-bulan berikutnya.
Ciri kedua orang bertakwa adalah mampu
menahan amarah. Marah merupakan gejala
manusiawi. Tapi orang-orang yang bertakwa
tidak akan mengumbar marah begitu saja. Al-
kâdhim (orang yang menahan) serumpun kata
dengan al-kadhîmah (termos). Kedua-duanya
mempunyai fungsi membendung: yang pertama
membendung amarah, yang kedua membendung
air panas.
Selayak termos, orang bertakwa semestinya
mampu menyembunyikan panas di dadanya
sehingg orang-orang di sekitarnya tidak tahu
bahwa ia sedang marah. Bisa jadi ia tetap
marah, namun ketakwaan mencegahnya
melampiaskan itu karena tahu mudarat yang
bakal ditimbulkan. Termos hanya menuangkan
air panas pada saat yang jelas maslahatnya dan
betul-betul dibutuhkan.
Patutlah pada kesempatan lebaran ini, umat
Islam mengontrol emosinya sebaik mungkin.
Mencegah amarah menguasai dirinya, dan
bersikap kepada orang-orang pernah
membuatnya marah secara wajar dan biasa-
biasa saja. Ramadhan semestinya telah melatih
orang untuk berlapang dada, bijak sana, dan
tetap sejuk menghadapi situasi sepanas apa
pun.
Ciri ketiga orang bertakwa adalah memaafkan
kesalahan orang lain. Sepanjang Ramadhan,
umat Islam paling dianjurkan memperbanyak
permohonan maaf kepada Allah dengan
membaca:
ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧَّﻚَ ﻋَﻔُﻮٌّ ﺗُﺤِﺐُّ ﺍْﻟﻌَﻔْﻮَ ﻓَﺎﻋْﻒُ ﻋَﻨِّﻲ
“Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun,
menyukai orang yang minta ampunan, ampunilah
aku.”
Kata ‘afw (maaf) diulang tiga kali dalam kalimat
tersebut, menunjukkan bahwa manusia memohon
dengan sangat serius ampunan dari Allah SWT.
Memohon ampun merupakan bukti kerendahan
diri di hadapan-Nya sebagai hamba yang banyak
kesalahan dan tak suci.
Cara ini, bila dipraktikkan dengan penuh
pengahayatan, sebenarnya melatih orang selama
Ramadhan tentang pentingnya maaf. Bila diri
kita sendiri saja tak mungkin suci dari
kesalahan, alasan apa yang kita tidak mau
memaafkan kesalahan orang lain? Maaf
merupakan sesuatu yang singkat namun bisa
terasa sangat berat karena persoalan ego,
gengsi, dan unsur-unsur nafsu lainnya.
Amatlah arif ulama-ulama di Tanah Air yang
menciptakan tradisi bersilaturahim dan saling
memaafkan di momen lebaran. Sempurnalah,
ketika kita usai membersihkan diri dari
kesalahan-kesalahan kepada Allah, selanjutnya
kita saling memaafkan kesalahan masing-
masing di antara manusia.
Sudah berapa kali puasa kita lewati sepanjang
kita hidup? Sudahkah ciri-ciri sukses Ramadhan
tersebut melekat dalam diri kita? Wallahu a’lam
bish shawab.
ﺑَﺎﺭَﻙَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟِﻲْ ﻭَﻟَﻜُﻢْ ﻓِﻲ ﺍْﻟﻘُﺮْﺁﻥِ ﺍْﻟﻌَﻈِﻴْﻢِ ﻭَﻧَﻔَﻌَﻨِﻲْ
ﻭَﺇِﻳَّﺎﻛُﻢْ ﺑِﻤَﺎ ﻓِﻴْﻪِ ﻣِﻦَ ﺍْﻵﻳﺎَﺕِ ﻭَﺫِﻛْﺮِ ﺍْﻟﺤَﻜِﻴْﻢِ. ﻭَﺗَﻘَﺒَّﻞَ
ﻣِﻨِّﻲْ ﻭَﻣِﻨْﻜُﻢْ ﺗِﻼَﻭَﺗَﻪُ ﺇِﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺴَّﻤِﻴْﻊُ ﺍﻟْﻌَﻠِﻴْﻢُ .

Khutbah II

ﺍَﻟﻠﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ×7، ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ِﻟﻠﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴْﻦَ، ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ
ﻻَﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺣْﺪَﻩُ ﻻَﺷَﺮِﻳْﻚَ ﻟَﻪُ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ
ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ، ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻭَﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ
ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻟِﻪِ ﻭَﺃَﺻْﺤَﺎﺑِﻪِ ﺃَﺟْﻤَﻌِﻴْﻦَ. ﻓَﻴَﺎﻋِﺒَﺎﺩَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍِﺗَّﻘُﻮْﺍ ﺍﻟﻠﻪَ
ﺣَﻖَّ ﺗُﻘَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻻَ ﺗَﻤُﻮْﺗُﻦَّ ﺇِﻻَّ ﻭَﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻣُﺴْﻠِﻤُﻮْﻥَ
ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟﻰَ ﻓِﻲْ ﻛِﺘَﺎﺑِﻪِ ﺍْﻟﻌَﻈِﻴْﻢِ "ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ
ﻭَﻣَﻼَﺋِﻜَﺘَﻪُ ﻳُﺼَﻠُّﻮْﻥَ ﻋَﻠﻰَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ, ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺃَﻣَﻨُﻮْﺍ
ﺻَﻠُّﻮْﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠِّﻤُﻮْﺍ ﺗَﺴْﻠِﻴْﻤًﺎ ." ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻭَﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠﻰَ
ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠﻰَ ﺍَﻟِﻪِ ﻭَﺃًﺻْﺤَﺎﺑِﻪِ ﺃَﺟْﻤَﻌِﻴْﻦَ. ﻭَﺍﻟﺘَّﺎﺑِﻌِﻴْﻦَ
ﻭَﺗَﺎﺑِﻊِ ﺍﻟﺘَّﺎﺑِﻌِﻴْﻦَ ﻭَﻣَﻦْ ﺗَﺒِﻌَﻬُﻢْ ﺑِﺈِﺣْﺴَﺎﻥٍ ﺇِﻟﻰَ ﻳَﻮْﻡِ ﺍﻟﺪِّﻳْﻦِ.
ﻭَﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ ﻣَﻌَﻬُﻢْ ﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻚَ ﻳَﺎ ﺍَﺭْﺣَﻢَ ﺍﻟﺮَّﺍﺣِﻤِﻴْﻦَ
ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟِﻠْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ ﻭَﺍْﻟﻤُﺴْﻠِﻤﺎَﺕِ, ﻭَﺍْﻟﻤُﺆْﻣِﻨِﻴْﻦَ
ﻭَﺍْﻟﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕِ , ﺍَﻟْﺄَﺣْﻴَﺎﺀِ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺍْﻷَﻣْﻮَﺍﺕِ ﺇِﻧَّﻚَ ﺳَﻤِﻴْﻊٌ
ﻗَﺮِﻳْﺐٌ ﻣُﺠِﻴْﺐُ ﺍﻟﺪَّﻋَﻮَﺍﺕِ ﻳَﺎ ﻗَﺎﺿِﻲَ ﺍْﻟﺤَﺎﺟَﺎﺕِ. ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺍﻓْﺘَﺢْ
ﺑَﻴْﻨَﻨَﺎ ﻭَﺑَﻴْﻦَ ﻗَﻮْﻣِﻨَﺎ ﺑِﺎْﻟﺤَﻖِّ ﻭَﺃَﻧْﺖَ ﺧَﻴْﺮُ ﺍْﻟﻔَﺎﺗِﺤِﻴْﻦَ. ﺭَﺑَّﻨَﺎ
ﺃَﺗِﻨَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺣَﺴَﻨَﺔً ﻭَﻓِﻲ ﺍْﻵﺧِﺮَﺓِ ﺣَﺴَﻨَﺔً ﻭَﻗِﻨَﺎ ﻋَﺬَﺍﺏَ
ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ
ﻋِﺒَﺎﺩَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻳَﺄْﻣُﺮُ ﺑِﺎﻟْﻌَﺪْﻝِ ﻭَﺍْﻹِﺣْﺴَﺎﻥِ ﻭَﺇِﻳْﺘَﺎﺀِ ﺫِﻱ
ﺍْﻟﻘُﺮْﺑﻰَ ﻭَﻳَﻨْﻬﻰَ ﻋَﻦِ ﺍْﻟﻔَﺤْﺸَﺎﺀِ ﻭَﺍْﻟﻤُﻨْﻜَﺮِ ﻭَﺍْﻟﺒَﻐْﻲِ
ﻳَﻌِﻈُﻜُﻢْ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗَﺬَﻛَّﺮُﻭْﻥَ. ﻓَﺎﺫْﻛُﺮُﻭْﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﻳَﺬْﻛُﺮْﻛُﻢْ
ﻭَﺍﺩْﻋُﻮْﻩُ ﻳَﺴْﺘَﺠِﺐْ ﻟَﻜُﻢْ ﻭَﻟَﺬِﻛْﺮُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺃَﻛْﺒَﺮ

Comments